
Sumur Ci Garut (Sidqi Al Ghifari)
GARUT - Jauh sebelum Garut dikenal sebagai daerah wisata, sentra dodol, atau tempat asal domba Garut, ada sebuah cerita tentang mata air yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah wilayah ini. Namanya Sumur Ci Garut, yang kini berada di lingkungan SMP Negeri 1 Garut, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota.
Kisahnya bermula pada awal abad ke-19. Setelah Kabupaten Limbangan dibubarkan pada 1811, pemerintahan kembali dibentuk beberapa tahun kemudian. Pada 16 Februari 1813, Raffles menetapkan wilayah Suci sebagai ibu kota Kabupaten Limbangan. Namun, kawasan tersebut dianggap kurang ideal karena lahannya terbatas.
Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya, kemudian mengutus sejumlah orang untuk mencari lokasi baru. Cimurah sempat menjadi pilihan, tetapi persoalan ketersediaan air membuat lokasi itu ditinggalkan. Pencarian berlanjut ke sebelah barat Suci hingga ditemukan kawasan dengan tanah subur, sumber air dan bentang alam yang dikelilingi sejumlah gunung.
Di tempat itulah terdapat sebuah telaga kecil yang tertutup semak berduri. Dalam proses membersihkan kawasan tersebut, salah seorang anggota rombongan mengalami luka akibat tergores tanaman. Dalam bahasa Sunda, kondisi itu disebut “kakarut”.
Seorang warga Eropa yang berada di lokasi kemudian mencoba mengucapkan istilah tersebut, tetapi melafalkannya menjadi “gagarut”. Dari peristiwa sederhana itulah kemudian muncul penyebutan “Ki Garut” untuk tanaman berduri tersebut, sementara sumber airnya dikenal sebagai “Ci Garut”. Nama Garut selanjutnya digunakan untuk menyebut ibu kota baru Kabupaten Limbangan.
Seiring perkembangan wilayah, telaga tersebut kini tidak lagi tampak seperti kondisi awalnya. Lokasinya berada di area SMP Negeri 1 Garut dan telah berbentuk sumur yang dikenal sebagai Sumur Ci Garut.
Meski berada di lingkungan sekolah, air sumur tersebut saat ini tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan keterangan pengelola sekolah yang dikutip Merdeka.com pada 2022, airnya pernah dikuras dan ketika itu keluar dalam kondisi bening serta cukup deras. Namun, setelah beberapa waktu, muncul kembali aroma yang membuat air tidak digunakan.
Sumur Ci Garut juga masih menyimpan cerita budaya dan kepercayaan masyarakat. Sebelum pandemi Covid-19, air dari sumber ini pernah diambil pemerintah untuk keperluan tradisi “Kawin Cai”. Dalam perkembangannya, tempat tersebut tetap dipandang sebagai salah satu peninggalan yang berkaitan dengan awal perjalanan Garut.
Pada peringatan Hari Jadi Garut ke-213 pada Februari 2026, Sumur Ci Garut kembali mendapat perhatian melalui prosesi adat Mapag Hurip Gumiwang Ci Garut. Pemerintah daerah menempatkannya sebagai bagian dari upaya mengingat kembali akar sejarah dan jejak para pendahulu Garut.
Kini, Sumur Ci Garut mungkin hanya berupa sebuah sumur sederhana di belakang bangunan sekolah. Namun di balik keberadaannya tersimpan cerita tentang pencarian ibu kota baru, sumber air, perubahan sebuah kawasan, hingga lahirnya nama yang kemudian menjadi identitas sebuah kabupaten.
Merawatnya bukan sekadar menjaga sebuah sumber air, tetapi juga mempertahankan ingatan tentang bagaimana Garut tumbuh dari sebuah perjalanan panjang sejarah.***
