
Gudeg Capitol Bandung (gmaps/Veronica H)
KOTA BANDUNG - Kalau mendengar kata gudeg, yang langsung terbayang biasanya kuliner khas Yogyakarta dengan rasa manis yang kuat. Tapi bagaimana kalau gudeg itu justru terasa asin, gurih, dan lebih dekat dengan karakter lidah orang Sunda?
Jawabannya bisa ditemukan di sebuah sudut Kota Bandung.
Namanya Gudeg Capitol, salah satu tempat makan legendaris yang sudah hadir sejak 1974. Berada di sekitar Jalan Dulatip, kawasan Jalan Jenderal Sudirman, tempat makan ini mungkin tidak terlihat seperti destinasi kuliner mewah. Lokasinya sederhana, berada di gang dengan deretan bangku untuk pelanggan.
Namun justru di tempat seperti inilah pengalaman kuliner Bandung terasa lebih otentik.
Pagi hari menjadi waktu yang menarik untuk datang. Suasana kawasan mulai ramai, sementara aroma masakan dari warung perlahan menggoda orang yang melintas. Pengunjung datang untuk sarapan sekaligus menikmati sajian gudeg yang punya karakter berbeda dari versi yang selama ini dikenal.
Satu porsi Gudeg Capitol biasanya berisi nasi, gudeg atau sayur nangka, telur, tahu, serta kerecek. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa yang gurih dan cenderung asin. Bagi lidah Sunda, karakter rasa seperti ini terasa cukup familiar.
Kereceknya juga menjadi bagian yang menarik. Teksturnya memberikan sensasi berbeda ketika disantap bersama nasi dan gudeg. Ada rasa gurih dan sedikit pedas yang membuat suapan berikutnya terasa sulit ditolak.
Yang membuat Gudeg Capitol semakin menarik bukan sekadar rasa, tetapi juga cerita panjang di baliknya. Usaha kuliner ini telah melewati beberapa generasi. Nama Capitol sendiri berkaitan dengan kawasan tempat usaha tersebut dahulu berada, yang dikenal dengan keberadaan Bioskop Capitol.
Selama puluhan tahun, warung sederhana ini terus bertahan di tengah perubahan wajah Kota Bandung. Pelanggannya pun bukan hanya warga sekitar. Orang dari luar kota bahkan wisatawan asing pernah datang untuk mencicipi gudeg dengan karakter rasa yang tidak biasa ini.
Untuk pengalaman yang lebih maksimal, datanglah pagi-pagi. Sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB menjadi waktu yang pas untuk berburu sarapan.
Buat saya, Gudeg Capitol menarik bukan karena mencoba mengubah gudeg menjadi sesuatu yang berbeda. Justru sebaliknya, makanan ini menunjukkan bagaimana sebuah kuliner bisa beradaptasi dengan selera lokal tanpa kehilangan identitasnya.
Jadi, kalau suatu pagi sedang berada di Bandung dan ingin mencari sarapan yang sederhana tetapi punya cerita panjang, Gudeg Capitol layak masuk daftar perjalanan kuliner. Sebab kadang, makanan paling berkesan justru ditemukan di gang kecil, dari warung sederhana, dengan rasa yang sudah menemani warga Bandung selama puluhan tahun.***
