Daeng Soetigna, Jejak Sang Maestro yang Mengubah Angklung Menjadi Musik Dunia

Jabar Tourism
0

Daeng Soetigna, Jejak Sang Maestro yang Mengubah Angklung Menjadi Musik Dunia (pinterest)

GARUT
- Nama Daeng Soetigna memiliki tempat penting dalam sejarah perkembangan angklung di Jawa Barat. Berkat gagasannya, alat musik bambu yang sebelumnya identik dengan tangga nada tradisional berkembang menjadi angklung diatonis-kromatis yang mampu memainkan beragam repertoar musik.


Lahir di Pameungpeuk, Garut, pada 13 Mei 1908, Daeng Soetigna tidak hanya dikenal sebagai seniman, tetapi juga seorang pendidik. Setelah menyelesaikan pendidikan di Kweekschool pada 1928, ia mengajar di sejumlah sekolah, termasuk di Cianjur dan Kuningan. Latar belakang sebagai guru kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya.


Awal Mula Angklung Diatonis

Ketertarikan serius Daeng Soetigna terhadap angklung semakin berkembang ketika ia berada di Kuningan. Pada 1938, sebuah pertunjukan angklung pentatonis menginspirasinya untuk menciptakan instrumen bambu yang menggunakan sistem nada yang lebih luas dan mudah digunakan untuk pembelajaran musik.


Ia kemudian berguru kepada pembuat angklung untuk memahami teknik pembuatan instrumen tersebut. Pengetahuannya terhadap musik Barat, termasuk gitar dan piano, turut membantu proses eksperimennya. Dari sinilah lahir konsep angklung diatonis dengan susunan nada yang memungkinkan angklung dimainkan secara berkelompok.


Konsep tersebut menjadi salah satu karya penting Daeng Soetigna. Setiap pemain memegang angklung dengan nada tertentu, kemudian menghasilkan melodi melalui kerja sama. Pendekatan ini membuat angklung bukan sekadar alat musik, tetapi juga media pendidikan yang mengajarkan kekompakan, disiplin, dan kebersamaan.


Dari Linggarjati hingga Dunia Internasional

Karya Daeng Soetigna kemudian tampil dalam berbagai momentum bersejarah. Pada 1946, permainan angklungnya hadir dalam forum Perundingan Linggarjati. Ia juga mendapat kesempatan membawa angklung ke berbagai acara kenegaraan.


Momentum besar berikutnya terjadi pada Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Setelah itu, angklung karya Daeng Soetigna semakin dikenal dalam berbagai pertunjukan internasional, termasuk World Fair di New York pada 1964 serta lawatan kebudayaan ke Belanda, Prancis, dan Malaysia.


Atas kontribusinya, Daeng Soetigna menerima sejumlah penghargaan, antara lain penghargaan dari Pemerintah Jawa Barat, Satya Lencana Kebudayaan pada 1968, serta Bintang Budaya Parama Dharma pada 2007.


Menelusuri Warisannya di Bandung

Jejak pemikiran Daeng Soetigna masih dapat ditelusuri melalui berbagai ruang budaya dan komunitas angklung di Bandung. Sistem angklung yang dikembangkannya menjadi fondasi penting bagi perkembangan angklung modern dan pendidikan musik bambu.


Upaya mengenang warisannya juga terus berlangsung. Pada November 2025, misalnya, kegiatan “Mengenal dan Memainkan Angklung Pa Daeng” digelar di Galeri Serambi Pirous, Bandung, dengan melibatkan komunitas dan masyarakat umum. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa karya Daeng Soetigna masih relevan sebagai bagian dari wisata budaya, pendidikan, sekaligus pelestarian seni tradisional.


Bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah angklung lebih jauh, menelusuri jejak Daeng Soetigna di Bandung bukan sekadar perjalanan menikmati pertunjukan musik. Di balik setiap getaran bambu, terdapat kisah seorang guru dan seniman yang berhasil mengubah angklung menjadi bahasa musik yang dapat dimainkan dan dipahami lintas generasi.***

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)