Makam Pangeran Papak di Cinunuk, Jejak Penyebaran Islam dan Kearifan Sunda di Garut

Jabar Tourism
0

Gerbang Makam Keramat Cinunuk Wanaraja Garut (SRA/NUJO)

GARUT
- Di tengah kehidupan masyarakat Garut yang lekat dengan tradisi Sunda dan sejarah penyebaran Islam, terdapat sejumlah situs yang hingga kini menjadi tujuan ziarah. Salah satunya adalah Makam Pangeran Papak di Cinunuk, Kecamatan Wanaraja.


Situs yang berada di Kampung Cinunuk Hilir, Desa Cinunuk, ini dikenal sebagai salah satu tempat bersejarah yang berkaitan dengan sosok Raden Wangsa Muhammad atau Pangeran Papak. Makam tersebut juga tercatat sebagai bagian dari situs cagar budaya dan telah lama menjadi tujuan masyarakat yang ingin berziarah maupun mengenal jejak sejarah Islam di wilayah Garut.


Lokasinya relatif mudah dijangkau. Dari pusat Kabupaten Garut, perjalanan menuju kawasan Wanaraja dapat ditempuh sekitar setengah jam menggunakan kendaraan. Dari Alun-Alun Wanaraja, kompleks makam berada sekitar satu kilometer dan dapat dilanjutkan dengan kendaraan menuju kawasan Cinunuk.


Mengenal Sosok Pangeran Papak

Nama Pangeran Papak memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat Cinunuk. Ia dipercaya sebagai salah seorang tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Garut.


Dalam salah satu sumber sejarah keluarga, Pangeran Papak disebut sebagai putra Raden Kyai Juari. Silsilahnya kemudian ditarik hingga Prabu Laya Kusumah, yang disebut sebagai putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja.


Namun, daya tarik utama dari sosok Pangeran Papak bukan hanya mengenai garis keturunannya. Gelar “Papak” justru dikaitkan dengan sikap hidupnya yang menjunjung kesetaraan.


Menurut keterangan keturunannya yang turut menjaga makam, istilah papak dimaknai sebagai rata atau tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan kedudukan sosial. Prinsip tersebut menggambarkan sosok yang menghormati sesama tanpa melihat apakah seseorang berasal dari kalangan berada maupun masyarakat biasa.


Ziarah sebagai Warisan Budaya

Bagi keluarga keturunan Pangeran Papak, keberadaan makam bukan semata-mata tempat ziarah. Pengelolaannya juga dipandang sebagai bagian dari upaya merawat warisan leluhur.


Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun. Salah satu ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan prinsip pengelolaan makam adalah “lain migusti, tapi mupusti”, yang dapat dimaknai bukan untuk mempertuhankan, melainkan menjaga dan melestarikan.


Karena itu, Makam Pangeran Papak tidak hanya memiliki nilai spiritual bagi para peziarah. Situs ini juga menyimpan cerita tentang sejarah lokal, tradisi masyarakat Sunda, serta nilai kesetaraan yang dilekatkan pada sosok Pangeran Papak.***

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)