.jpg)
Manshur Praditya a.k.a Manshur Angklung (instagram.com/manshur.angklung)
BANDUNG — Angklung selama ini lekat dengan citra musik tradisional Sunda yang dimainkan dalam pertunjukan budaya. Namun, di tangan Manshur Praditya, alat musik berbahan bambu tersebut menjelma menjadi suguhan modern yang mampu mengajak penonton dari berbagai negara ikut bergoyang.
Dikenal dengan nama panggung Manshur Angklung, pemuda kelahiran Bandung, 25 Januari 1994, ini menghadirkan perpaduan unik antara karakter suara bambu dan energi Electronic Dance Music (EDM). Konsep tersebut kemudian dikenal sebagai Angklung Toel EDM, sebuah inovasi yang membawa kesenian tradisional ke ruang pertunjukan yang lebih luas.
Kecintaannya terhadap musik bambu telah tumbuh sejak masa pendidikan. Manshur menempuh pendidikan karawitan Sunda di SMKN 10 Bandung, kemudian melanjutkan studi di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada bidang Angklung dan Musik Bambu.
Perjalanannya tidak selalu mudah. Ketika memilih angklung sebagai jalan berkesenian, masih ada anggapan bahwa instrumen tradisional tersebut kurang menjanjikan untuk masa depan. Manshur justru menjadikan pandangan itu sebagai pemicu untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.
Ia melakukan modifikasi terhadap Angklung Toel, instrumen angklung yang dimainkan dengan cara disentuh atau dicolek pada rak khusus. Tata letaknya dirancang menyerupai susunan tuts piano sehingga memungkinkan perpindahan nada dilakukan dengan lebih cepat.
Dari sinilah lahir perpaduan bambu Sunda dengan dentuman musik elektronik. Suara khas angklung yang organik berpadu dengan ritme EDM yang enerjik, menghasilkan pertunjukan yang terasa dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.
Kreativitas tersebut kemudian diperkenalkan melalui dunia digital. Manshur memainkan berbagai lagu populer menggunakan angklung, termasuk lagu “Lathi” dan “Dynamite” milik BTS. Penampilannya mendapat perhatian luas di media sosial dan membuka jalan menuju panggung internasional.
Jejaknya pun semakin panjang. Manshur Angklung telah tampil dalam sejumlah perjalanan pertunjukan di Jepang, India, Malaysia, dan Singapura. Kiprahnya kemudian berlanjut ke Eropa melalui rangkaian Europe Tour, termasuk penampilan di Copenhagen, Denmark.
Kisah Manshur menjadi bagian menarik dari wajah wisata budaya Bandung. Ia membuktikan bahwa pelestarian tradisi tidak harus selalu dilakukan dengan cara konvensional. Dari sebilah bambu, lahir musik yang mampu menyeberangi batas bahasa, generasi, bahkan negara.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal kreativitas budaya Sunda dari perspektif berbeda, perjalanan Manshur Angklung menunjukkan bahwa angklung Bandung bukan sekadar warisan masa lalu. Di tangan generasi kreatif, bambu tradisional justru dapat menjadi bahasa musik masa kini yang menggema hingga panggung dunia. ***
