
Mie Kocok Mata Sapi 1966, Jejak Kuliner Legendaris dalam Wisata Sukabumi (gmaps/Madfakh)
SUKABUMI - Berbicara tentang wisata kuliner Sukabumi, rasanya belum lengkap jika belum mencicipi sajian legendaris yang telah bertahan lintas generasi. Salah satunya adalah Mie Kocok Mata Sapi 1966, kuliner sederhana di Jalan Ahmad Yani yang menyimpan cerita panjang sejak lebih dari setengah abad lalu.
Dari sebuah jongko sederhana, aroma kuah kaldu sapi yang gurih menjadi penanda keberadaan kuliner ini. Resepnya diwariskan dari generasi ke generasi sejak 1966 dan hingga kini masih menjadi pilihan masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar Sukabumi.
Kuah Kaldu Gurih dengan Isian yang Menggoda
Satu mangkuk Mie Kocok Mata Sapi menyajikan mi pipih dengan tekstur lembut, kuah kaldu sapi yang kaya rasa, irisan kikil, tauge, serta pelengkap berupa daun bawang, seledri, bawang goreng dan perasan jeruk nipis.
Keunikan lainnya terletak pada proses pengolahan mi. Mi dimasak menggunakan wadah logam berlubang yang kemudian dikocok atau dicelupkan ke dalam air mendidih. Teknik inilah yang menjadi asal penyebutan “mie kocok”.
Namun, daya tarik utama kuliner ini tentu saja terletak pada tambahan mata sapi. Bagian tersebut menjadi menu khas yang membuat pengalaman menyantap mie kocok di tempat ini berbeda dari sajian mie kocok pada umumnya.
Kuliner Legendaris yang Tetap Bertahan
Mie Kocok Mata Sapi 1966 bukan sekadar makanan pengganjal perut. Di balik semangkuk mie terdapat cerita tentang resep keluarga yang terus dipertahankan. Pengelola menyebut penggunaan bahan berkualitas dan resep keluarga menjadi bagian penting untuk menjaga cita rasa.
Tempat ini juga menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner tradisional mampu menjadi bagian dari perjalanan wisata kuliner Sukabumi. Pembelinya beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga orang tua. Bahkan, pengunjung dari luar kota turut menjadikan kuliner ini sebagai salah satu tujuan ketika berada di Sukabumi.
Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi sisi lain Kota Sukabumi, mencicipi Mie Kocok Mata Sapi 1966 bisa menjadi pengalaman sederhana tetapi berkesan. Sebab, perjalanan wisata tidak selalu tentang destinasi besar—terkadang cerita sebuah kota justru tersaji dalam semangkuk kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.***
