Bukan Sekadar Alat Musik, Ini Kisah "Kacapi Jeletot” yang Lahir dari Kreativitas Seniman Karawang

Jabar Tourism
0

Kesenian Kacapi Jeletot Khas Karawang (Jurnal ISBI Bandung)

KARAWANG
– Kacapi selama ini dikenal sebagai salah satu instrumen musik Sunda dengan karakter suara yang lembut dan melodius. Namun, anggapan tersebut berubah ketika alat musik petik itu dimainkan dengan teknik berbeda oleh seniman di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.


Dari kreativitas tersebut lahirlah Kacapi Jeletot, kesenian tradisional yang menghadirkan permainan kacapi dengan karakter lebih dinamis, menghentak, dan menyerupai pola ritmis kendang jaipongan. Kesenian ini juga dikenal di kalangan pelaku seni setempat dengan sebutan Pipong, kependekan dari Kacapi Jaipong.


Jejak kemunculan Kacapi Jeletot tercatat bermula pada 1972. Sosok yang berada di balik inovasi tersebut adalah Ali Gombel, seniman asal Karawang yang dikenal memiliki kemampuan dalam memainkan berbagai kesenian tradisional.


Eksperimen Ali bermula dari permainan kacapi celempungan. Ia kemudian mengembangkan teknik permainan dengan memasukkan unsur tepakan dan dinamika yang lazim ditemukan dalam permainan kendang Sunda. Pola tersebut diterapkan ke dalam permainan senar kacapi sehingga menghasilkan karakter suara yang berbeda.


Nama “Jeletot” sendiri menggambarkan karakter permainan yang terasa tajam, spontan, dan menghentak. Istilah tersebut juga memiliki kedekatan dengan ungkapan dalam keseharian masyarakat Sunda untuk menggambarkan sensasi rasa pedas yang langsung terasa.


Keunikan lainnya terletak pada perubahan fungsi instrumen. Jika kacapi pada umumnya lebih banyak berperan sebagai pembawa melodi dalam karawitan Sunda, Kacapi Jeletot justru mampu menghasilkan pola ritmis. Pemain tidak hanya memetik senar, tetapi juga memanfaatkan bagian badan alat musik untuk menghasilkan variasi bunyi.


Teknik tersebut membuat satu instrumen dapat menghadirkan permainan yang terasa lebih lengkap. Ritme, tempo, dan aksen pertunjukan bisa dibangun melalui permainan kacapi tanpa harus selalu bergantung pada kehadiran kendang.


Kehadiran Kacapi Jeletot sekaligus memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional dapat berkembang mengikuti kreativitas pelakunya. Dari lingkungan seni masyarakat Karawang, inovasi yang dimulai pada 1972 tersebut tetap memiliki ruang dalam perkembangan budaya Sunda hingga sekarang.


Pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia menjadi penanda penting bahwa Kacapi Jeletot bukan sekadar bentuk hiburan masyarakat. Kesenian ini merupakan bagian dari identitas budaya Karawang sekaligus contoh bahwa tradisi dapat terus beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarahnya.


Di tengah perkembangan musik modern, Kacapi Jeletot menunjukkan satu hal sederhana: tradisi tidak selalu harus dimainkan dengan cara yang sama. Kadang, justru dari keberanian keluar dari pakem itulah lahir warna baru yang membuat sebuah kesenian tetap hidup.***

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)