![]() |
| Angklung Gubrag Warisan Budaya Sunda dari Kampung Cipining Bogor (Pemkab Bogor) |
KABUPATEN BOGOR - Di tengah hamparan sawah dan kehidupan masyarakat pedesaan, suara bambu yang bergetar menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam. Bagi masyarakat Sunda, musik tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari tradisi, kepercayaan, dan ungkapan rasa syukur atas kehidupan.
Salah satu warisan budaya yang merekam hubungan tersebut adalah Angklung Gubrag. Kesenian tradisional dari Kabupaten Bogor ini menjadi daya tarik wisata budaya yang menawarkan pengalaman berbeda bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan kearifan lokal masyarakat Sunda.
Berada di Kampung Cipining, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Angklung Gubrag dikenal sebagai salah satu kesenian angklung tertua di wilayah Bogor. Keberadaannya diperkirakan telah berlangsung selama lebih dari empat abad.
Angklung Gubrag dan Cerita di Balik Lahirnya Tradisi
Keunikan Angklung Gubrag tidak hanya terletak pada suara bambunya, tetapi juga pada kisah yang menyertai kelahirannya.
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kesenian ini bermula ketika masyarakat Kampung Cipining menghadapi masa paceklik. Gagal panen membuat kehidupan warga menjadi sulit.
Masyarakat kemudian memainkan angklung sebagai bagian dari ritual untuk memohon kesuburan tanah dan keberhasilan panen. Dalam kepercayaan setempat, bunyi angklung diharapkan dapat menarik perhatian Nyi Pohaci atau Dewi Sri, sosok yang dipercaya sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran.
Nama Gubrag sendiri dikaitkan dengan istilah Sunda ngagubrag, yang menggambarkan bunyi keras atau sesuatu yang jatuh secara tiba-tiba.
Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat dan berkembang menjadi identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.
Bukan Sekadar Musik, tetapi Bagian dari Wisata Budaya
Angklung Gubrag memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas pertanian masyarakat Sunda. Kesenian ini dimainkan dalam berbagai tradisi, mulai dari melak pare atau menanam padi, ngunjal pare atau mengangkut padi, hingga ngadiukeun atau menyimpan padi di lumbung.
Rangkaian tradisi tersebut menjadi gambaran bagaimana masyarakat menghormati alam sekaligus menjaga keseimbangan kehidupan.
Bagi wisatawan yang tertarik dengan wisata budaya Bogor, Angklung Gubrag menawarkan perspektif berbeda dalam menikmati perjalanan. Tidak hanya mengunjungi tempat dengan pemandangan menarik, wisatawan juga dapat mengenal nilai-nilai kehidupan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Menjaga Warisan Budaya Kabupaten Bogor
Angklung Gubrag telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2021 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 372/M/2021.
Pengakuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesenian tradisional bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga.
Angklung Gubrag membuktikan bahwa kekayaan wisata Kabupaten Bogor tidak hanya hadir melalui panorama alamnya. Di balik suara bambu yang sederhana, tersimpan sejarah panjang, tradisi pertanian, dan kearifan lokal yang menjadikan wisata budaya Sunda begitu menarik untuk dikenali lebih dekat.***

.jpeg)