![]() |
| Situs Makam Keramat Eyang Gedeng Rungkang (Dokumentasi Istimewa) |
BANDUNG BARAT - Kabupaten Bandung Barat memiliki sejumlah destinasi wisata religi yang menyimpan cerita panjang tentang sejarah dan perkembangan Islam di Tatar Sunda. Salah satunya adalah Situs Makam Keramat Eyang Gedeng Rungkang yang berada di Kampung Babakan Sari, Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.
Selain menjadi tempat ziarah, situs ini menyimpan kisah seorang tokoh yang dipercaya memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam sekaligus perkembangan peradaban masyarakat Sunda pada abad ke-17.
Mengenal Sosok Eyang Gedeng Rungkang
Eyang Gedeng Rungkang atau dikenal dengan nama Ki Gedeng Rungkang merupakan tokoh yang memiliki garis keturunan bangsawan Sunda. Berdasarkan kisah dalam Babad Bupati Bandung, ia disebut sebagai putra sulung Adipati Kertamanah atau Waliyullah Cikabuyutan, seorang tokoh penyebar Islam yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Prabu Siliwangi.
Pengaruh Eyang Gedeng Rungkang semakin kuat melalui pernikahannya dengan putri Kyai Dipati Ukur, tokoh penting dalam sejarah Tatar Sunda yang dikenal melalui perlawanan terhadap VOC.
Latar belakang keluarga tersebut menjadikan Eyang Gedeng Rungkang dihormati sebagai tokoh agama sekaligus leluhur yang memiliki pengaruh dalam pembukaan wilayah di kawasan Bandung dan sekitarnya.
Tradisi Lokal yang Menyimpan Cerita Unik
Kompleks makam yang berada di RT 03/RW 09, Kampung Babakan Sari, Desa Cipatik ini juga menjadi tempat peristirahatan keturunannya, Eyang Santoan Kunur yang dikenal sebagai Syekh Abdul Mannan.
Ada cerita menarik yang masih dikenang masyarakat setempat, yakni larangan mengucapkan istilah "rungkang-rangkeng" secara sembarangan pada masa lalu. Ungkapan tersebut dianggap tabu karena memiliki kemiripan dengan nama Eyang Gedeng Rungkang.
Tradisi lisan ini menggambarkan bentuk penghormatan masyarakat terhadap leluhur yang dianggap berjasa dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Wisata Religi dengan Suasana yang Menenangkan
Memasuki kawasan makam, pengunjung akan menjumpai suasana pedesaan yang relatif tenang dengan pepohonan rindang di sekitarnya. Lingkungan tersebut memberikan ruang bagi peziarah untuk berdoa, berdzikir, dan melakukan refleksi diri.
Pada momentum tertentu, seperti peringatan hari besar Islam dan kegiatan manaqiban, kawasan makam biasanya dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Bagi masyarakat, berziarah ke makam ini bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga menjadi salah satu cara mengenang perjalanan dakwah para tokoh terdahulu.
Keberadaan Situs Makam Keramat Eyang Gedeng Rungkang menjadi bagian penting dari kekayaan wisata religi dan warisan sejarah Bandung Barat. Situs ini sekaligus mengingatkan generasi masa kini tentang perjalanan panjang penyebaran Islam serta kearifan lokal masyarakat Sunda yang patut dijaga.***

.jpg)